Dirgahayu Indonesiaku

Dalam rangka memperingati Dirgahayu Republik Indonesia ke 78,Lembaga Pendidikan Islam Al Azhaar Tulungagung mengadakan Pawai Budaya dan Bhinneka untuk memeriahkan Hari Kemerdekaan Indonesia. Adapun kegiatan ini diikuti oleh seluruh murid,walimurid dan semua guru dengan berbagai kostum, ada yang berbusana daerah, kostum pahlawan pejuang kemerdekaan dan kostum bermacam profesi sebagai wujud cita-cita di masa depan.

Paud Al Azhaar Tulungagung sebagai bagian jenjang terkecil di LPI Al Azhaar turut memeriahkan Dirgahayu RI dengan penuh semangat meskipun usianya masih 3-4 tahunan. Dengan penuh sukacita anak-anak Paud beserta orangtua pendamping mengikuti upacara pembukaan sebelum pawai dimulai. Upacara pembukaan dihadiri oleh pejabat instansi terkait dan pagelaran ektra memanah dari SD Islam Al Azhaar.

Pemberangkatan dimulai dari jenjang terkecil yaitu Paud Al Azhaar, Rubat, Tk Islam Al Azhaar, SDI Al Azhaar, SMP Islam Al Azhaar, dan SMA/SMK Islam Al Azhaar. Peserta Pawai berjalan kaki sesuai dengan rute yang sudah ditentukan. Dengan semangat cinta tanah air dan mengingat para pejuang kemerdekaan pantang lelah dan pantang menyerah.

Pawai budaya yang melibatkan anak-anak PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) merupakan salah satu bentuk perayaan yang indah dan bermakna dalam rangka memperingati Dirgahayu Republik Indonesia (HUT RI) ke-78. Pawai ini tidak hanya menjadi ajang hiburan semata, tetapi juga menjadi wadah untuk mengajarkan nilai-nilai kebhinekaan dan cinta tanah air kepada generasi muda sejak dini.

Pawai budaya dalam perayaan HUT RI memiliki tujuan utama untuk merayakan keragaman budaya dan kebhinekaan Indonesia. Melalui pawai ini, anak-anak PAUD diajak untuk mengenali dan menghargai berbagai suku, agama, ras, dan budaya yang ada di Indonesia. Hal ini sangat penting dalam membangun kesadaran dan penghargaan terhadap perbedaan serta memupuk rasa persatuan dan kesatuan di antara anak-anak yang berasal dari latar belakang yang beragam.

Tujuan dan Manfaat:

  • Pengenalan Budaya Lokal: Pawai budaya memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk belajar tentang budaya lokal mereka dan budaya daerah lain di Indonesia.
  • Pendidikan Kebhinekaan: Melalui pawai ini, anak-anak akan belajar tentang nilai-nilai pluralisme, toleransi, dan persatuan dalam perbedaan.
  • Pembelajaran Menyenangkan: Mengajarkan nilai-nilai budaya dan kebhinekaan melalui kegiatan yang menyenangkan akan lebih efektif di mata anak-anak.
  • Pengembangan Kreativitas: Melalui persiapan pawai, anak-anak akan terlibat dalam proses kreatif seperti membuat kostum, menghias kendaraan, dan menampilkan tarian.
  • Keterlibatan Orang Tua dan Masyarakat: Pawai ini juga bisa melibatkan orang tua dan masyarakat, yang akan berkontribusi dalam menyediakan kostum, dukungan moral, dan pengetahuan budaya.

Dalam kesimpulannya, pawai budaya dalam rangka HUT RI ke-78 untuk anak-anak PAUD merupakan upaya yang bermakna dalam mengajarkan kebhinekaan, persatuan, dan cinta tanah air sejak usia dini. Dengan melibatkan anak-anak dalam acara seperti ini, kita dapat membentuk generasi yang menghargai dan menjaga keanekaragaman budaya Indonesia.

SENANGNYA BERMAIN DAN BELAJAR DI PAUD AL AZHAAR

 PAUD cenderung mengutamakan pendekatan bermain dalam proses belajar. Anak-anak diajak untuk belajar melalui permainan dan aktivitas kreatif yang sesuai dengan perkembangan fisik dan kognitif mereka. Pendekatan ini membuat belajar terasa menyenangkan dan tidak terlalu tekanan.dalam Lingkungan yang didesain untuk menjadi ramah anak dengan warna-warna cerah, dekorasi menarik, dan peralatan belajar yang sesuai. Hal ini menciptakan suasana yang nyaman dan menyenangkan bagi anak-anak, membuat mereka lebih termotivasi untuk belajar.

Belajar di PAUD juga memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk berinteraksi dengan teman sebaya mereka. Interaksi sosial ini membantu dalam perkembangan kemampuan sosial dan emosional anak-anak, serta membuat proses belajar lebih menyenangkan karena ada teman-teman dengan siapa mereka bisa bermain dan belajar bersama.

dalam Aktivitas kreatif seperti melukis, mewarnai, bernyanyi, dan membuat kerajinan tangan sering kali menjadi bagian dari kurikulum PAUD. Anak-anak dapat mengekspresikan kreativitas mereka melalui berbagai cara ini, yang secara inheren menyenangkan dan memuaskan. antara lain :

  1. Kebebasan Eksplorasi: Anak-anak diajak untuk menjelajahi dan mengamati dunia di sekitar mereka. Mereka diberi kesempatan untuk mengeksplorasi objek, benda, dan lingkungan sekitar secara bebas, yang merangsang rasa ingin tahu dan rasa keingintahuan mereka.

  2. Pujian dan Penghargaan: Di lingkungan PAUD, prestasi anak-anak sering kali dipuji dan dihargai. Pujian ini dapat meningkatkan rasa percaya diri anak-anak dan memberi mereka dorongan untuk terus belajar.

MEMPERINGATI HUT RI KE ”78”

Memperingati HUT RI ''78''
dengan mengusung tema :
cita-cita anak bangsa,berkarya untuk Indonesia berbhineka tunggal ika

tanggal,19 agustus 2023

Setiap tahun, PAUD mengadakan pawai yang berbeda-beda tema, merangsang kreativitas anak-anak serta menunjukkan keterlibatan mereka dalam persiapan dan eksekusi acara tersebut. Tema pawai sering kali berkaitan dengan pendidikan, lingkungan, nilai-nilai moral, atau perayaan budaya. Dalam mempersiapkan pawai ini, anak-anak diajak untuk berpartisipasi dalam proses pemilihan tema, pembuatan kostum, dan dekorasi.

Pelajaran dalam Persiapan Pawai

Proses persiapan pawai ini memberikan banyak pelajaran berharga bagi anak-anak. Mereka belajar tentang kerja sama dalam tim, kreativitas dalam mendesain dan membuat kostum serta hiasan, serta tanggung jawab dalam menjaga kebersihan dan kerapihan saat berpartisipasi dalam pawai. Melalui aktivitas ini, mereka juga bisa mengembangkan keterampilan motorik halus dan keterampilan sosial seperti berinteraksi dengan teman sekelas dan guru.

Kegembiraan dan Keterlibatan Orang Tua

Pawai anak PAUD bukan hanya kesempatan bagi anak-anak untuk bersenang-senang, tetapi juga bagi orang tua untuk terlibat dalam pendidikan anak mereka. Orang tua seringkali ikut ambil bagian dalam proses persiapan pawai dengan membantu anak-anak dalam membuat kostum atau hiasan. Keterlibatan orang tua ini dapat mempererat hubungan antara sekolah dan keluarga serta memberikan contoh positif tentang pentingnya mendukung pendidikan anak-anak.

Menanamkan Nilai dan Keberagaman Budaya

Selain mengenalkan konsep kreativitas dan kerja sama, pawai anak PAUD juga dapat menjadi sarana untuk menanamkan nilai-nilai positif pada anak-anak. Dengan memilih tema yang berfokus pada nilai-nilai moral, mereka dapat belajar tentang pentingnya berbagi, tolong-menolong, dan menghormati orang lain. Jika tema pawai melibatkan perayaan budaya, anak-anak juga bisa belajar menghargai keberagaman budaya di masyarakat.

Kesimpulan

Pawai anak PAUD adalah contoh bagaimana pendidikan dapat diintegrasikan dengan kegiatan yang menyenangkan dan bermakna bagi anak-anak. Dengan membiarkan mereka terlibat dalam persiapan dan pelaksanaan pawai, kita tidak hanya merangsang kreativitas mereka, tetapi juga memberikan pelajaran berharga tentang kerja sama, tanggung jawab, dan nilai-nilai positif. Semua aspek ini bersama-sama membentuk fondasi yang kuat untuk perkembangan masa depan mereka.

KECERDASAN KINESTETIK

Anak dengan kecerdasan kinestetik tentu membutuhkan metode belajar yang aktif.pada umumnya anak dengan kecerdasan kinestetik yang tinggi lebih mahir dalam bidang olahraga dan seni yang menggunakan gerak tubuh seperti menari atau berakting.

Anak dengan kecerdasan kinestetik membutuhkan proses belajar melalui sentuhan tindakan gerakan dan aktivitas yang bersifat hands-on.

Cara mengembangkan kecerdasan kinestetik dapat di lakukan melalui:

  • Ajak anak untuk melakukan gerakan fisik seperti menyapu mengepal membersihkan tempat tidur,dan olahraga
  • Perdengarkan musik pada anak
  • Pengenalkan objek melalui gerakan
  • Bawa anak ke tempat yang baru dan luas seperti taman bermain,tempat olahraga.
  • Rangsang anak melalui permainan balok membuat istana di pasir atau lilin,melipat kertas atau menempel barang yang rusak.
  • Bantu anak mengeksplorasi hobinya, seperti mendorongnya dalam kompetesi seni
  • Berikut contoh – contoh kegiatan pembelajaran di paud alazhaar yang dapat mengembangkan kecerdasan kinestetik anak seperti :

melipat kertas origami berbentuk rumah

 

 

Menyusun balok

 

  

Meronce dari bahan alam.

Bermain estafet bola

 

 

 

Indahnya jadi penghafal Quran

Indahnya jadi penghafal Quran

A.Begitu indahnya, jika kita membesarkan anak-anak kita dengan gema dan aura al-Quran

Mereka yang hari ini sukses, jadi orang besar, jadi orang baik, pasti mereka dididik dengan pola asuh yang benar. Mereka pernah kecil, mengalami masa kanak-kanak yang indah dan menyenangkan. Kita semua juga ingin anak-anak kita hidup demikian.

Tentu, dimulai dari orang tuanya. Sapu yang bersih akan dengan mudah membersihkan tempat kotor. Sapu yang kotor malah mengotori tempat bersih. Orangtua yang hafal al-Quran berpotensi menciptakan generasi yang hafal al-Quran juga. Di saat anak-anak masih tidur menjelang tiba waktu Subuh, kita bangunkan mereka dengan nada-nada al-Quran. Konon, alam bawah sadar anak (otak pada gelombang teta) akan terus merekam suara-suara luar meski mereka terlelap tidur. Meninabobokkan bayi, sembari  memperdengarkan alunan kalam ilahi, sungguh memberikan energi positif yang luar biasa.

Demikian juga, ketika mengantar dan menjemput anak sekolah, tak henti-hentinya orang tua memandu hafalan anak. Lebih-lebih lagi, waktu anak-anak sakit selalu dibacakan doa-doa dan ayat al-Quran untuk memohon kesembuhan mereka. Berkunjung ke makam famili dan orang sholih, kita ajari mereka mendoakan dan membacakan al-Quran serta pada even-even penting lainnya.

B. Suatu ketika, kita pasti menjadi dewasa lalu tua, apa kegiatan kita di saat-saat menyongsong ajal tersebut?

Sudah bukan rahasia lagi, bahwa masa tua adalah masa dimana orang rentan terhinggap banyak penyakit, semua organ tubuh sudah berkurang fungsi dan powernya. Mata sudah mulai kabur, pendengaran juga tidak setajam dahulu. Mungkin pada usia itu, kita sudah pensiun dari pekerjaan, rumah sudah bagus, harta melimpah, sehingga tidak lagi membutuhkan aktivitas kerja lagi. Dalam kondisi seperti ini, apakah Anda betah berjam-jam duduk di depan televisi saja atau hanya jalan-jalan ringan mengelilingi rumah, meski harta melimpah. Lalu mana aktivitas ibadahnya?

Seusai shalat wajib di masjid tentu berdzikir lalu pulang ke rumah begitu seterusnya. Mau baca al-Quran mata tidak lagi jelas, apalagi menghafal. Relakah masa tua kita hanya seperti itu? Tidakkah kita ingin setiap hembusan nafas yang keluar dari mulut kita adalah untaian kalimat al-Quran. Setiap detakan jantung bernilai sepuluh kebaikan lantaran satu huruf al-Quran yang kita baca. Siang dan malam hari, juz demi juz terdendangkan dengan merdu. Semua itu mustahil terjadi apabila seseorang tidak hafal al-Quran. Meski mata tak mampu melihat lekukan huruf-huruf al-Quran, tetapi hati sangat tajam dan pikiran terus bersinar, mampu menangkap lafadz dan makna al-Quran. Keistiqamahan semacam ini insyaallah menjamin kita untuk menghembuskan nafas terakhir dengan khusnul khatimah, amin.

Rasulullah saw menganjurkan agar “kepulangan kita” kelak kepada Allah dalam kondisi membawa al-Quran, beliau bersabda:

إنَّكُمْ لاَ تُرْجَعُوْنَ إلىَ اللهِ بِشَيْءٍ أَفْضَلُ مِمَّا خَرَجَ مِنْهُ يَعْنِيْ الْقُرْآنَ (رواه الحاكم عن أبي ذر الغفاري)

Sesungguhnya kalian tidak dikembalikan kepada Allah dengan membawa sesuatu yang lebih utama dibanding sesuatu yang keluar dari Allah yaitu al-Quran.       

Bagaimanakah pendidikan anak usia dini dalam konteks pendidikan nasional – Oleh Nurhayati, Guru Paud Al Azhaar Tulungagung

Bagaimanakah pendidikan anak usia dini dalam konteks pendidikan nasional – Oleh Nurhayati, Guru Paud Al Azhaar Tulungagung

Bagaimanakah pendidikan anak usia dini dalam konteks pendidikan nasional – Oleh Nurhayati, Guru Paud Al Azhaar Tulungagung – Berdasarkan hasil penelitian sekitar 50% kecerdasan orang dewasa telah terjadi pada anak usia 4 tahun, 8 0% telah terjadi pada perkembangan yang meningkat tentang jaringan otak anak usia 8 tahun dan mencapai puncaknya anak usia 18 tahun, dan itu juga bisa dilakukan perbaikan gizi tidak akan berdampak terhadap perkembangan kognitif

Periode emas untuk perkembangan anak perlu untuk mendapatkan proses pendidikan, dan periode ini adalah tahun-tahun yang sangat berharga untuk anak-anak untuk memahami berbagai masalah di lingkungannnya sebagai stimulus untuk pengembangan kepercayaan, psikomotor, kognitif juga sosialnya.Hal ini mendukung pengembangan yang terjadi dalam kurun waktu 4 tahun pertama sama dengan perkembangan yang terjadi pada kurun waktu 14 tahun berikutnya. Periode ini merupakan periode kritis bagi anak, di mana perkembangan yang diperoleh pada periode ini sangat perlu terhadap perkembangan periode berikutnya hingga masa dewasa. Sementara masa emas ini hanya datang sekali, jadi peluang terlewatkan berarti habislah peluangnya.

Untuk pendidikan anak usia dini diperlukan rangsangan (stimulasi) dari lingkungan terdekat yang sangat dibutuhkan untuk mendukung kemampuan anak. Pemerintah dalam hal jangan sekai-kali melakukan pembahasan yang sangat diskriminatif Diperlukan dalam pembahasan terhadap PAUD (baik paud forma, non formal mupun paud informal) yang didukung pada pos paud, karena UU No 20 tahun 2003 tidak dapat menggunakan pos paud , lagi pemerintah tidak boleh deskriminatif.

APRESIASI SANTRI BERPRESTASI

Pemerintah Indonesia telah memperkenalkan panduan stimulasi dalam program Bina Keluarga Balita (BKB) sejak tahun 1980, namun implementasinya belum memasyarakat. Hasil penelitian Herawati (2002) di Bogor menemukan dari 265 keluarga yang membahas hanya 15% yang mengetahui program BKB, faktor lain adalah rendahnya partisipasi orang tua dalam program BKB.

Masih rendahnya layanan pendidikan dan perawatan untuk anak usia dini saat ini antara lain masih terbatasnya jumlah lembaga yang menyediakan layanan pendidikan lebih awal untuk jumlah anak usia 0-6 tahun yang memperoleh layanan tersebut. Berbagai program yang ada baik langsung (melalui Bina Keluarga Balita dan Posyandu) yang telah disetujui selama ini belum menyediakan layanan lengkap, belum bersinergi dan belum terintegrasi pelayanannya antara aspek pendidikan, kesehatan dan gizi. Sementara kecerdasan aspek ini sangat menentukan tingkat kecerdasan, kecerdasan dan tumbuh kembang anak.

Pada lembaga pendidikan anak usia dini, kini sudah ada yang membahas tentang dasar-dasar cara belajar. Di usianya yang masih sangat dini, anak akan diperkenalkan terlebih dahulu pada fondasi. Mereka akan mempelajari sedikit demi sedikit melalui apa yang mereka lihat dan mengerti. Dengan mereka bermain akan membahas bagaimana cara yang tepat dalam bersosialisasi, waktu yang ditentukan dan yang bisa menguasai 1-3 bahasa.

Pendidikan anak usia dini yang orang tua berikan kepada anak merupakan suatu persiapan kematangan anak di masa depan sesuai perkembangannya di masa yang akan datang. Saat ini memiliki banyak sekolah taman kanak-kanak menyediakan pendidikan yang baik dan berkualitas sesuai dengan mengembangkan kemampuan dan bakat dalam diri anak tersebut. Oleh karena itu, perlu bantuan dan dukungan dalam mendukung dan mendidik anak dalam membaca. Mengajar anak membaca tidak harus melihat usia yang tepat untuk membicarakannya. Yang terpenting di sini adalah Anda yang menantang yang terbaik dalam pendidikannya kelak

Demikian artikel Bagaimanakah pendidikan anak usia dini dalam konteks pendidikan nasional – Oleh Nurhayati, Guru Paud Al Azhaar Tulungagung, semoga bermanfaat. Aamiin